Author - admin

Anak – Anakku Berlutut dan Menangis

Saat divonis kanker payudara stadium 2A di akhir tahun 2012, sebagai seorang Ibu Tunggal, yang terbayang hanya wajah anak-anakku yang pada saat itu masih berusia 14 dan 12 tahun.

Setelah berdoa berkonsultasi ke medis dan non medis. Akhirnya saya memberitahu anak-anak saya bahwa saya terkena kanker payudara.

Dengan setenang mungkin saya sampaikan kepada mereka “mama kena kanker payudara”.

Walau hanya beberapa saat mereka terdiam lesu, saya merasakan betapa hancur hati mereka mendengar hal itu. Dalam hati saya berteriak “ya Tuhan tolong kuatkan mereka”.

Perlahan mereka berlutut dan kemudian anak pertama saya perlahan memegang tangan saya dan dengan lirih berkata ,”bagaimana dengan kami kalau tidak ada mama lagi?” dan mereka berdua langsung menangis.

Mendengar itu saya baru merasa dunia runtuh, jantung saya terasa berhenti dan hati saya terasa hancur.

Sambil menangis, dalam hati saya berteriak pada Tuhan ,”Tuhan Yesus berikan hikmat agar saya bisa mengerti bagaimana cara menjawab dan menghadapi hal ini.”

Tuhan memang luar biasa baik. Dalam beberapa detik saya merasa mendapatkan keberanian dan kekuatan yang luar biasa.

Saya berkata kepada mereka “jangan menangis sayang, kan mama belum kenapa-kenapa sekarang. Dengarkan mama, Mama tidak bisa berjanji mama pasti sembuh, karna hanya Tuhan yang punya kuasa menyembuhkan. Tapi mama berjanji mama akan berjuang keras sampai akhir untuk perang dengan kanker supaya bisa terus bersama-sama dengan kalian. Kita berjuang sama2 ya”. Kami bertiga berpelukan sambil menangis.

Janji itu yang membuat mereka mempunyai harapan, janji itu juga memberikan semangat kepada saya, bahwa “saya harus hidup”

Saya menjalani biopsy, operasi, 24 kali kemoterapi, 30 kali radiasi, treatment tulang dan obat lainnya.

Proses penyembuhan kanker itu memang sakit dan perjuangan yang panjang. Bukan hanya kepala botak, kuku hitam, muka menjadi seperti plastik, kehilangan rasa di bagian tubuh dll, akan tetapi tantangan terbesar adalah bagaimana kita tetap positif dan tetap semangat berjuang.

Ditambah lagi masih harus bekerja untuk biaya medis, hidup dan anak-anak.

Akan tetapi saya sadar bahwa penyebab kanker saya adalah stress dan kepahitan, karna itu saya juga belajar merubah gaya hidup dan belajar merelakan. Mencoba lebih mengisi waktu untuk kegiatan positif, kegiatan sosial dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Saya yakin sekali bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan saya, Tuhan sudah menyediakan jalan keluar dan bantuan. Dengan support dari keluarga, anak-anak dan orang mencintai saya pada akhirnya melalui perjuangan 1,5 tahun melawan kanker saya dinyatakan “clear” di tahun 2014.

Pelajaran terpenting yang saya dapatkan adalah waktu menunggu antrian dokter bersama puluhan pasien lainnya. Ada suara dalam hati yang bertanya “apa yang pasien-pasien ini harapkan dari dokter?Kesembuhan?”

Lama saya terdiam sampai saya menyadari bahwa jawaban yang benar adalah “mereka mengharapkan tambahan waktu”.

Waktu itu adalah berkat yang sangat berharga dan banyak kali tanpa sadar kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia.

Pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk orang-orang yang kita sayangi, selalu memandang kehidupan ini dari sisi positif dan menjalaninya dengan hati yang selalu bersyukur.

Bergabung dengan YKPI sekitar 1,5 tahun yang lalu, Grace merasakan persaudaraan dan bahkan anak-anak Grace juga sering berpartisipasi dalam acara YKPI dan mereka bisa merasa Bapak dan Ibu Agum Gumelar dengan sangat tulus menyayangi mereka. Grace bisa belajar banyak dari sesama survivor yang ternyata melalui proses yang lebih berat dan panjang. Sungguh wanita-wanita pejuang yang luar biasa. Terutama Ibu Linda Agum Gumelar dan keluarga dan seluruh pengurus YKPI yang tanpa mengenal lelah, penuh pengorbanan dan tanpa pamrih sangat berdedikasi untuk memberikan yang terbaik untuk survivors.

Read more...

Kenaikan pengidap kanker payudara pada negara berkembang

WHO memprediksi, tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker.

Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari Rp1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Saat ini kanker payudara menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara,” ujar Dr. Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, dikutip dari rilis YKPI dan Forum Ngobras, Jumat 2 Februari 2018.

Menurut dr. Martha, Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama. Faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat menopause di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal.

“Deteksi dini dilakukan dengan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), USG dan mammografi. Mammografi dianjurkan untuk usia lebih dari 40 tahun, dan bisa dikombinasikan dengan USG,” ungkapnya.

Sementara itu, Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas.

Peningkatan angka tersebut disinyalir karena masyarakat mulai memahami peran deteksi dini kanker payudara yakni mammografi.

“Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” ujar Ketua YKPI, Linda Gumelar.

Link Referensi: www.viva.co.id

Read more...

Cara mencegah kanker payudara

WHO memprediksi, tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker.

Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari Rp1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Saat ini kanker payudara menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara,” ujar Dr. Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, dikutip dari rilis YKPI dan Forum Ngobras, Jumat 2 Februari 2018.

Menurut dr. Martha, Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama. Faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat menopause di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal.

“Deteksi dini dilakukan dengan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), USG dan mammografi. Mammografi dianjurkan untuk usia lebih dari 40 tahun, dan bisa dikombinasikan dengan USG,” ungkapnya.

Sementara itu, Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas.

Peningkatan angka tersebut disinyalir karena masyarakat mulai memahami peran deteksi dini kanker payudara yakni mammografi.

“Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” ujar Ketua YKPI, Linda Gumelar.

Link Referensi: www.viva.co.id

Read more...

Seperti Ini Perubahan Payudara yang Terserang Kanker

WHO memprediksi, tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker.

Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari Rp1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Saat ini kanker payudara menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara,” ujar Dr. Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, dikutip dari rilis YKPI dan Forum Ngobras, Jumat 2 Februari 2018.

Menurut dr. Martha, Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama. Faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat menopause di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal.

“Deteksi dini dilakukan dengan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), USG dan mammografi. Mammografi dianjurkan untuk usia lebih dari 40 tahun, dan bisa dikombinasikan dengan USG,” ungkapnya.

Sementara itu, Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas.

Peningkatan angka tersebut disinyalir karena masyarakat mulai memahami peran deteksi dini kanker payudara yakni mammografi.

“Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” ujar Ketua YKPI, Linda Gumelar.

Link Referensi: www.viva.co.id

Read more...

Awas! Pada Wanita Sibuk, Risiko Kanker Payudara Kerap Terabaikan

Jakarta, Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari pada tiap tahunnya. Kanker telah menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia, dan salah satunya adalah kanker payudara.

Di Indonesia sendiri kasus kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Hal tersebut yang mendasari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) memberikan sosialisasi tentang pentingnya deteksi kanker payudara sejak dini.

Saat ditemui di acara Pemeriksaan Mamografi Gratis untuk Rekan Media dan Keluarga, Endang Moerniati selaku Humas dari YKPI menjelaskan bahwa wanita karier justru lebih rentan terkena kanker payudara daripada yang tidak bekerja.

“Semua wanita yang bekerja pasti tidak akan sempat memikirkan dirinya sendiri, terutama kesehatan dirinya. Sibuk memikirkan orang lain, memikirkan pekerjaannya. Kita sebagai perempuan selalu punya pemikiran bahwa kita merasa diri kita kuat. Tidak boleh seperti itu. Karena kita tidak tahu, di dalam diri kita ini ada sesuatu. Kita harus peduli, sebagai perempuan kita harus peduli dengan diri sendiri,” tutur Endang kepada detikHealth, di Melawai, Jakarta Selatan.

Endang juga menambahkan, bahwa memeriksakan diri sendiri lebih awal justru lebih baik. Karena jika sudah terlambat, biaya pengobatan kanker payudara sangat mahal.

“Dan kalau sudah tergeletak kita tidak bisa apa-apa. mumpung masih dalam kondisi sehat dan kuat kita periksakan diri sendiri. Jangan tunggu sakit untuk memeriksakan diri sendiri.

Read more...

Melawan Kanker payudara

Anugerah dan musibah yang hadir dalam hidup tidak dapat kita pungkiri. Keduanya datang untuk menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Ketika keduanya datang beriringan, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan rasa syukur.

Inilah yang dihadapi Yolla Anggia. Ketika ia sedang menanti-nantikan kelahiran buah hatinya yang ketiga, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ada kanker stadium 0 dalam dirinya. Meski masih dalam stadium awal, namun dunia serasa runtuh di depan mata wanita berusia 35 tahun ini.

“Saya berasa seperti dunia runtuh, mikirnya sudah kemana-mana. Tapi karena anak-anak masih kecil jadi saya harus bisa menerima ini. Saya merasa ini memang takdir yang harus saya jalani,” ungkap ibu 3 anak ini.

Berawal saat menyusui anak pertama, wanita yang akrab disapa Yolla ini merasakan payudaranya lecet, tepatnya dibagian putingnya. Keadaan tersebut berlanjut saat menyusui anak kedua hingga ke kehamilan anak ketiga dan lecetnya tidak kunjung mengering. Lebih parahnya lagi hingga keluar darah.

Yolla kemudian dirujuk ke dokter onkologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Karena saat itu posisinya sedang hamil jadi biopsinya direncanakan setelah melahirkan. Namun saat USG ada cairan di saluran ASI sehingga ASI-nya tidak bisa keluar jadi solusinya dibiopsi saat itu juga,” cerita Yolla mengenai kondisinya saat itu.

Kala itu usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan dan waktu baginya untuk mengambil keputusan semakin sempit. Ia didiagnosa mengidap paget’s disease stadium 0. “Biasanya kan ada benjolan, kalau saya di saluran susunya ada cairan. Katanya kalau paget’s disease ini dari saluran susu ke puting sehingga putingnya luka dan tidak kunjung sembuh,” jelas Yolla.

Maka diusia kehamilan 7 bulan, ia memutuskan untuk melakukan mastektomi. “Kalau lumpektomi, belum tahu nanti jaringan kankernya masih ada lagi atau tidak dan nantinya masih harus menjalani terapi. Sedangkan mastektomi langsung diangkat semuanya dan tidak usah melakukan terapi jadi saya memilih mastektomi,” kata Yolla.

Keputusan yang diambil pun didukung penuh oleh suami yang selalu menemaninya. “Suami saya mendukung keputusan saya, yang paling penting saya dan bayi sehat,” ujar Yolla. Ia juga mengatakan bahwa sebelum dilakukan mastektomi, dokter yang akan melakukan operasi tersebut sudah mengkonfirmasi dengan dokter kandungannya. Menurut mereka bahwa langkah yang diambil aman dan tidak memiliki dampak pada kandungannya sehingga ia bersedia untuk melakukan tindakan itu.

Kini setelah berjuang melawan kanker payudara, ia ingin menjaga kondisi kesehatannya sendiri dan keluarganya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan mengenai kanker dengan mengikuti beragam acara seperti Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 1 Oktober 2016 lalu. Ia berharap bahwa dengan mengikuti acara seperti ini bisa menambah pengetahuannya mengenai kanker itu sendiri, cara penanganannya, dan pola hidup sehat. “Saya ingin tahu makanan dietnya seperti apa, apa yang harus dihindari, karena pengetahuan saya mengenai hal ini masih minim,” tutupnya.

Read more...

Anugerah Dibalik Musibah

Anugerah dan musibah yang hadir dalam hidup tidak dapat kita pungkiri. Keduanya datang untuk menjadikan kita sebagai manusia yang lebih bersyukur atas apa yang kita peroleh dalam hidup. Ketika keduanya datang beriringan, yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan rasa syukur.

Inilah yang dihadapi Yolla Anggia. Ketika ia sedang menanti-nantikan kelahiran buah hatinya yang ketiga, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa ada kanker stadium 0 dalam dirinya. Meski masih dalam stadium awal, namun dunia serasa runtuh di depan mata wanita berusia 35 tahun ini.

“Saya berasa seperti dunia runtuh, mikirnya sudah kemana-mana. Tapi karena anak-anak masih kecil jadi saya harus bisa menerima ini. Saya merasa ini memang takdir yang harus saya jalani,” ungkap ibu 3 anak ini.

Berawal saat menyusui anak pertama, wanita yang akrab disapa Yolla ini merasakan payudaranya lecet, tepatnya dibagian putingnya. Keadaan tersebut berlanjut saat menyusui anak kedua hingga ke kehamilan anak ketiga dan lecetnya tidak kunjung mengering. Lebih parahnya lagi hingga keluar darah.

Yolla kemudian dirujuk ke dokter onkologi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Karena saat itu posisinya sedang hamil jadi biopsinya direncanakan setelah melahirkan. Namun saat USG ada cairan di saluran ASI sehingga ASI-nya tidak bisa keluar jadi solusinya dibiopsi saat itu juga,” cerita Yolla mengenai kondisinya saat itu.

Kala itu usia kandungannya sudah mencapai 6 bulan dan waktu baginya untuk mengambil keputusan semakin sempit. Ia didiagnosa mengidap paget’s disease stadium 0. “Biasanya kan ada benjolan, kalau saya di saluran susunya ada cairan. Katanya kalau paget’s disease ini dari saluran susu ke puting sehingga putingnya luka dan tidak kunjung sembuh,” jelas Yolla.

Maka diusia kehamilan 7 bulan, ia memutuskan untuk melakukan mastektomi. “Kalau lumpektomi, belum tahu nanti jaringan kankernya masih ada lagi atau tidak dan nantinya masih harus menjalani terapi. Sedangkan mastektomi langsung diangkat semuanya dan tidak usah melakukan terapi jadi saya memilih mastektomi,” kata Yolla.

Keputusan yang diambil pun didukung penuh oleh suami yang selalu menemaninya. “Suami saya mendukung keputusan saya, yang paling penting saya dan bayi sehat,” ujar Yolla. Ia juga mengatakan bahwa sebelum dilakukan mastektomi, dokter yang akan melakukan operasi tersebut sudah mengkonfirmasi dengan dokter kandungannya. Menurut mereka bahwa langkah yang diambil aman dan tidak memiliki dampak pada kandungannya sehingga ia bersedia untuk melakukan tindakan itu.

Kini setelah berjuang melawan kanker payudara, ia ingin menjaga kondisi kesehatannya sendiri dan keluarganya. Salah satunya dengan menambah pengetahuan mengenai kanker dengan mengikuti beragam acara seperti Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 1 Oktober 2016 lalu. Ia berharap bahwa dengan mengikuti acara seperti ini bisa menambah pengetahuannya mengenai kanker itu sendiri, cara penanganannya, dan pola hidup sehat. “Saya ingin tahu makanan dietnya seperti apa, apa yang harus dihindari, karena pengetahuan saya mengenai hal ini masih minim,” tutupnya.

Read more...